Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah [Penjelasan Lengkap]

NMTCHICAGO.ORG – Apakah Anda tahu apa perbedaan bank konvensional dan bank syariah? Bagi sebagian orang mungkin menganggap bahwa fungsi bank itu sama yaitu sebagai media melakukan transaksi.

Namun jika berbicara tentang bank konvensional dan bank syariah, keduanya memiliki fungsi yang sama. Yang menjadi pembeda yakni jenis program dan fasilitas yang ditawarkan keduanya tentu berbeda.

Baca artikel menarik yang terkait cara sms banking mandiri terbaru.

Apa Itu Bank Konvensional dan Bank Syariah?

Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah
Sumber: d1iqudb2hg8ayl.cloudfront.net

Sebelum kita membahas lebih lanjut tentang perbedaan bank konvensional dan bank syariah, alangkah lebih baik kita membahas pengertian keduanya terlebih dahulu. Agar lebih memperdalam pemahaman Anda tentang perbedaan kedua jenis bank ini.

Cara Kerja Bank Konvensional

Bank konvensional diartikan sebagai jenis bank yang dalam kegiatan usahanya yakni pemberian jasa dalam lalu lintas pembayaran dilakukan secara konvensional.

Prinsipnya, bank konvensional selalu menetapkan bunga sebagai harga. Baik dalam simpanan seperti menabung, deposito berjangka, maupun pinjaman (kredit). Dimana bunga tersebut diberikan berdasarkan tingkat bunga tertentu.

Bank konvensional juga menggunakan sistem fee based. Artinya, setiap kali ada pelayanan jasa transaksi yang melibatkan bank lain akan dikenakan biasay administrasi.

Misal, Anda adalah nasabah Bank Mandiri dan ingin melakukan transfer uang ke Bank BNI. Maka, dari pihak Bank Mandiri akan menetapkan biaya administrasi untuk setiap pengiriman, begitu pula sebaliknya.

Cara Kerja Bank Syariah

Prinsip tersebut berbeda dengan pengertian bank Syariah. Pengertian bank Syariah dijelaskan di dalam Undang-Undang No. 10 tahun 1998 yaitu bank yang bank yang kegiatan usahanya dilaksanakan berdasarkan prinsip syariah dalam kegiatan memberikan jasa dalam lalu lintas pembayaran.

Prinsip-prinsip bank Syariah juga diatur di dalam pasal 1 ayat 13 Undang-Undang No. 10 tentang perbankan. Berdasarkan pasal tersebut prinsip pelaksanaan bank syariah dilakukan berdasarkan hukum islam.

Baik antara bank dengan pihak lain untuk penyimpanan dana atau pembiayaan kegiatan usaha. Dalam hal ini seperti pembiayaan, bank syariah membaginya menjadi beberapa prinsip berikut ini.

  • Prinsip bagi sasil atau mudharabah.
  • Pembiayaan dengan prinsip penyertaan modal atau musyarakah.
  • Prinsip jual beli barang dengan memperoleh keuntungan atau murabahah.
  • Pembiayaan modal berdasarkan prinsip sewa murni tanpa pilihan atau ijarah.
  • Pilihan pemindahan kepemilikan atas barang yang disewa dari pihak bank oleh pihak lain atau ijarah wa iqtina.

Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah

Perbedaan Bank Konvensional dan Syariah
Sumber: img.okezone.com

Belum banyak orang yang tahu mengenai perbedaan bank konvensional dan bank syariah. Kedua terlihat secara fungsi, namun berbeda dalam pelayanan transaksinya.

Berikut ini adalah penjelasan perbedaan antara bank konvensional dan bank syariah.

1. Perbedaan bank konvensional dan bank syariah dari segi prinsip dasar yang digunakan

Telah dijelaskan pada paragraf sebelumnya bahwa hal mendasar dari perbedaan bank konvensional dan bank syariah yaitu prinsip dasar yang digunakan.

Bank syariah menggunakan prinsip dasar syariat islam. Dimana segala bentuk kebijakan yang ditetapkan diambil berdasarkan ajaran agama islam.

Bersumber dari Al-Qur’an dan Hadist yang telah difatwakan oleh Majelis Ulama Indonesia (MUI). Beberapa hokum yang diberlakukan di bank syariah antara lain.

  1. Akad al Mudharabah (bagi hasil).
  2. Al Musyarakah (perkongsian).
  3. Al Musaqat (kerja sama tani).
  4. Al Ba’I (bagi hasil).
  5. Al Iajarah (sewa-menyewa).
  6. Al Wakalah (keagenan).

Sedangkan prinsip bank konvensional yakni berdasarkan keuntungan, yakni selalu menetapkan jumlah bunga sebagai harga pada setiap produk.

Misalnya seperti simpanan, pinjaman atau kredit, dan deposito berjangka. Segala bentuk transaksi dan perjanjian yang dibuat oleh bank konvensional berdasarkan hukum-hukum yang berlaku di Indonesia, yakni hukum perdata dan hukum pidana.

Prinsip bank konvensional bertolak belakang dengan prinsip bank syariah yakni ajaran islam. Menurut pandangan islam, sistem transaksi yang dilakukan pada bank konvensional dengan menetapkan Bungan disebut sebagai riba.

Riba ini bertentangan dengan sistem ekonomi yang diterapkan di dalam syariat ajaran Islam.

2. Perbedaan bank konvensional dan bank syariah dari segi pembagian keuntungan

Setiap lembaga perbankan pasti menginginkan usaha yang dijalankan akan mendapatkan keuntungan.

Jika tidak, pasti bank tersebut akan merugi dan bankrut. Upaya dalam mendapatkan keuntungan pun dilakukan oleh bank konvensional maupun bank Syariah.

Namun, ada perbedaan bank konvensional dan bank Syariah di dalam cara pembagian keuntungan yang dilakukan.

Menurut Undang-Undang No 10 tahun 1998 tentang perbankan, keuntungan yang diperoleh bank konvensional berasal dari suku Bunga yang ditetapkan.

Selain itu, nasabah juga bisa memperoleh keuntungan melalui bunga simpanan yang tinggi.

Cara Menghitung Bagi Hasil di Bank Syariah

Berbeda dengan bank konvensional, bank Syariah tidak menetapkan bunga dalam memperoleh keuntungan, melainkan dengan sistem bagi hasil atau nisbah.

Cara penghitungan bagi hasil dilakukan berdasarkan syariat islam yakni.

1. Profit Sharing

Bagi hasil (profit sharing), di mana total pendapatan usaha dikurangi dengan biaya operasional akan mendapatkan keuntungan bersih.

Dengan ini bank Syariah akan membagi keuntungan bersih dari usaha atau investasi yang telah dijalankan.

Tentunya dengan perjanjian yang sudah ditetapkan dan disetujui di awal, sehingga tidak akan ada perselisihan nantinya.

Jenis Pelayanan Perbankan di Bank Syariah

Dalam membagi keuntungan, ada tiga jenis akan atau perjanjian yang akan ditawarkan kepada para nasabahnya.

a. Akad Mudharabah

yaitu jenis perjanjian di mana nasabah akan memberikan modal untuk usaha, sementara pihak bank yang melakukan investasi atau usaha.

Kedua belah pihak akan membagi sendiri berapa keuntungan yang akan didapat. Selain itu, juga ada perjanjian kedua belah pihak jika terjadi kerugian.

Biasanya, apabila kesalahan dilakukan oleh nasabah, maka kerugian ditanggung oleh nasabah, sementara jika kesalahan dilakukan oleh pihak bank, maka yang pihak bank harus bertanggung jawab.

b. Akad Musyarakah

Yaitu jenis perjanjian dengan adanya kerja sama antar dua belah pihak atau lebih untuk suatu usaha tertentu.

Dalam perjanjian ini, pihak-pihak yang saling terkait sama-sama mengeluarkan modal yang sama dan juga akan menanggung resiko bersama-sama.

c. Akad murabahah

Yaitu jenis perjanjian yang didasarkan atas aktivitas jual beli barang dengan keuntungan diperoleh bank Syariah, namun sudah terjadi kesepakatan di awal.

Misal, pihak bank membeli sebuah rumah dengan harga Rp 200 juta dan akan menjualnya dengan harga Rp 210 juta kepada pembeli, sehingga bank akan memperoleh keuntungan Rp 10 juta.

Jika antara pembeli dan pihak bank saling setuju, maka pembeli dapat mencicil seharga Rp 210 juta dengan cicilan tetap sampai lunas.

2. Revenue Sharing

Kedua, Revenue sharing, yaitu keuntungan diperoleh dari total pendapatan usaha sebelum dikurangi biaya operasional atau disebut sebagai pendapatan kotor.

3. Perbedaan bank konvensional dan bank syariah dari segi hubungan nasabah dengan pihak bank

Hal selanjutnya yang menjadi perbedaan bank konvensional dan bank syariah yaitu hubungan antara nasabah dengan pihak bank.

Memang berbeda jika kita melihat bagaimana bentuk kerja sama yang terjadi antara nasabah bank konvensional dan nasabah bank syariah.

Bank konvensional cenderung memperlakukan para nasabah mereka selayaknya kreditur dan debitur. Jadi, apabila pembayaran kredit oleh debitur lancar, maka akan mendapatkan keterangan lancar dari pihak bank.

Sebaliknya, jika pembayaran tidak lancar, maka pihak bank akan terus menagihnya, bahkan bisa sampai kepada penyitaan aset yang menjadi jaminan.

Berbeda dengan bank syariah, di mana pihak bank dan nasabah diposisikan selayaknya rekan kerja. Sepertinya yang dijelaskan pada pembahasan sebelumnya.

Jika sistem keuntungan yang digunakan bank syariah yakni bagi hasil. Dengan demikian, tidak akan sampai pada penyitaan aset nasabah oleh pihak bank syariah.

Namun jika nasabah menunggak kewajiban, tentu tetap ada proses perbankan yang akan dilakukan berdasarkan kesepakatan awal.

4. Perbedaan bank konvensional dan bank syariah dari segi cara cicilan peminjaman

Perbedaan bank konvensional dan bank syariah juga terdapat pada sistem cicilan dan promosi yang mereka lakukan. Pada bank konvensional, cara cicilan yang dilakukan yakni dengan menetapkan suku bunga.

Tujuannya tidak lain adalah untuk mendapatkan keuntungan. Bunga dibayarkan pada saat membayar cicilan per bulan.

Misal, Anda ingin meminjam uang di bank sebesar Rp 5 juta dan pihak bank memberikan suku bunga 1% setiap bulannya.

Jika pembayaran dilunasi dalam satu tahun, maka jumlah cicilan yang harus anda bayarkan tiap bulan yaitu Rp 5 juta dibagi 12 bulan. Kemudian ditambahkan dengan 1% dari Rp 5 juta.

Hal tersebut berbeda dengan yang dilakukan oleh bank syariah. Untuk proses perkreditan, bank syariah menggunakan akad murabahah. Penjelasannya sudah dijelaskan diatas.

Perkembangan Bank Konvensional dan Bank Syariah di Indonesia

Perbedaan Bank Konvensional dan Bank Syariah
Sumber: qazwa.id

Bagaimana perkembangan bank konvensional dan bank syariah? Perjalanan kedua bank tersebut memang berbeda.

Namun, sebagian besar orang lebih mengenal bank konvensional dibandingkan dengan bank syariah.

Mari kita bahas seperti apa perbedaan bank konvensional dan bank syariah berdasarkan perjalanan sejarahnya.

Bank syariah merupakan satu jenis bank yang dalam segala bentuk kegiatan transaksinya dilakukan sesuai dengan syariat islam.

Atas dasar ini, beberapa orang juga ada yang menyebutnya dengan bank Islam. Di dalam bank syariah, tidak mengenal adanya bunga pinjaman, karena menurut Islam hal tersebut adalah riba.

Belum banyak yang mengetahui seperti apa perkembangan bank syariah. Cikal bakal meluasnya lembaga perbankan syariah diawali dengan terbentuknya kelompok kerja untuk mendirikan Bank Islam di Indonesia pada tahun 1990.

Konsep ini digulirkan oleh MUI (Majelis Ulama Indonesia). Setelah itu, pada tahun 1991 baru muncul bank syariah pertama di Indonesia yakni Bank Muamalat.

Berdirinya Bank Muamalat telah mampu memunculkan lahirnya bank syariah baru. Kemudian berdirilah Bank Syariah Mandiri pada tahun 1998 sebagai akibat adanya krisis ekonomi pada tahun tersebut.

Berdirinya Bank Syariah Mandiri tersebut terinspirasi oleh kemampuan Bank Muamalat dalam menghadapi krisis ekonomi pada tahun 1998. Padahal banyak bank konvensional yang tidak mampu bertahan akibat keadaan tersebut.

Keberadaan bank syariah juga sudah diatur di dalam Undang-Undang no 10 tahun 1998 tentang perubahan Undang-Undang no 7 tahun 1992 tentang perbankan.

Perjalanan bank konvensional di Indonesia telah berlangsung lebih dulu dibandingkan dengan bank syariah.

Awal perkembangan bank konvensional di Indonesia sudah berjalan sejak zaman penjajahan kolonial Belanda. Dimana fungsi lembaga perbankan adalah untuk menjaga keseimbangan keuangan pemerintahan pada waktu itu.

Namun, di awal kemerdekaan juga sudah berdiri bank-bank besar di Indonesia. Misalnya saja seperti Bank Negara Indonesia (1946), Bank Surakarta Maskapai Adil Makmur (1945), Bank Dagang Nasional (1946), dan berbagai perbankan lainnya.

Hingga pada periode sekarang ini, sudah banyak bermunculan berbagai bank konvensional. Kemunculan berbagai bank konvensional tersebut juga ditunjang berbagai kemajuan teknologi masa kini.

Begitulah penjelasan tentang perbedaan bank konvensional dan bank syariah. Sebelum menggunakan jasa layanan perbankan, memang lebih baik Anda mengenal dahulu seperti apa jasa perbankan yang ingin Anda gunakan. Selanjutnya, lakukanlah transaksi menggunakan jasa perbankan secara bertanggung jawab.

Baca artikel terbaru saat ini arti mimpi gigi copot.

Tinggalkan komentar